Penyebaran Agama Islam di indonesia

Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad VII Masehi dengan jalan damai. Agama dan kebudayaan Islam kemudian berkembang pada abad XIII masehi. Penyebaran Islam dilakukan oleh bangsa Arab, Persia, dan Gujarat (India). Islamisasi semakin intensif setelah berdiri perkampungan pedagang Gujarat (kampung Pekojan), pondok pesantren, terjadinya perkawinan, dan melalui kesenian gamelan atau wayang kulit.

Saluran Islamisasi
Proses penyebaran dan perkembangan agama dan kebudayaan Islam melalui berbagai cara. Cara itu antara lain sebagai berikut:

a. Saluran perdagangan. Telah lama para pedagang nusantara menjalankan aktivitas perdagangan. Akibat interaksi mereka dengan para pedagang Arab, Persia dan Gujarat, masyarakat Indonesia mengenal Islam. Selain sebagai saudagar atau pedagang, orang-orang dari Arab, Persia, dan Gujarat itu juga menyebarkan ajaran agama Islam.

b. Saluran perkawinan. Setelah menjalankan aktivitas perdagangan, para pedagang luar menetap dan tinggal di berbagai daerah di Indonesia. Selanjutnya, pedagang-pedagang yang menetap itu mendirikan perkampungan. Sebagian dari mereka kemudian menikah dengan wanita-wanita Indonesia. Para wanita dan keturunan mereka pun kemudian menganut agama Islam juga.

c. Saluran pendidikan. Seiring dengan berkembangnya pusat-pusat penyebaran Islam, di beberapa daerah berdiri pondok-pondok pesantren. Di tempat itulah para pemuda dari berbagai daerah belajar untuk menimba ilmu agama Islam.

d. Saluran dakwah. Para pemuda yang tamat dari pendidikan di pesantren, mulai berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam di daerahnya masing-masing. Islam pun dikembangkan sesuai dengan kondisi sosiologis masing-masing daerah.

e. Saluran kesenian. Salah satu kesenian yang efektif untuk mengumpulkan massa adalah pertunjukan wayang. Wayang dijadikan media dakwah setelah ajaran Islam dimasukkan sebagai muatannya. Melalui pertunjukan wayang dan seni gamelan Islam disebarkan oleh para wali.